Saya yakin setiap
orang pasti menginginkan untuk dimengerti, didukung, diakui keberadaannya serta
dihargai. Saya sangat yakin bahwa Saya dan Kamu akan sangat ingin berada dengan
orang seperti itu, benar?
Siapa sih yang gamau
punya seseorang yang dengan tulus mengakui keberadaan Kita? Kamu mau kan? Saya
sangat mau.
Apakah kamu mau
memiliki hubungan dengan rekan kerja, patner bisnis, atasan, teman, dan
pasangan yang seperti itu? Saya mau sekali, apakah Kamu mau?
Untuk itu, Kamu
harus lanjutkan baca tulisan ini sampai akhir, sebab saya ingin mengajak kamu
membahas lebih jauh mengenai hal tersebut.
Haii, Riqi Disini.
Saat ini Kamu sedang
mengunjungi OrangorangProduktif, dimana sekarang Kamu adalah Tamu Saya yang
sangat berharga, karena dari sekian banyak “rumah” yang ada di “awan internet”
ini, kamu memilih untuk mengunjungi “rumah saya.” Untuk itu, saya ucapkan
terima kasih karena sudah mampir ke dalam “rumah fikiran” saya.
Bayangkan, kamu
memiliki pertemanan, atasan, rekan kerja, pasangan hidup yang dengan tulus
mengakui keberadaan kamu. Mereka menghargai kamu dan mendukung serta mengerti
kamu. Pasti akan sangat menyenangkan memiliki semua itu. Stephen R. Covey dalam
bukunya yang berjudul The Seven Habits Of
Highly Effective People menyebutkan
bahwa ini semua adalah Udara Psikologis.
Ia menganalogikan
udara psikologis ini dengan udara yang kita hirup. Tentu kita sangat
membutuhkannya, betul? Udara yang kita hirup untuk menunjang kehidupan kita dan
sekaligus sebagai pondasi kehidupan mahluk hidup.
Begitu pentingnya
udara psikologis menurut Stephen Covey ini sehingga ia mengalanogikan
pentingnya udara yang kita hirup dengan kebutuhan akan penghargaan dari orang
lain ini.
*Saya akan menggunakan istilah udara psikologis
untuk merangkum perasaan ingin dimengerti, didukung, diakui keberadaannya serta
dihargai.*
Untuk mendapatkan
sesuatu, kita harus memberi terlebih dahulu, betul? Ini adalah kaidah penting
yang berlaku secara umum dalam setiap aspek kehidupan. Untuk mendapatkan
senyuman, peluangnya akan lebih besar jika kita memberikan senyuman terlebih
dahulu, setuju?
Untuk mendapatkan
sapaan hangat, peluangnya akan lebih besar jika kita yang memulainya, setuju?
“Tangan diatas lebih
baik dari pada tangan dibawah”
Adalah ungkapan yang
bisa kita gunakan juga ketika kita berharap akan mendapatkan udara psikologis
dari orang lain. Kita bisa saja mendapatkan senyuman dan sapaan hangat terlebih
dahulu dari orang lain. Tapi, disini saya ingin mengajak kamu agar kamu menjadi
seseorang yang dengan tulus untuk “menjadi dan memulai” bukan serta merta
“menerima tanpa memulai.”
Sebelumnya, saya
ingin membahas mengenai empat bentuk komunikasi yang sudah sangat familiar
yaitu bentuk komunikasi dengan menulis, bentuk komunikasi dengan membaca,
berbicara serta mendengarkan. Inilah empat bentuk komunikasi kita sehari-hari.
Coba tebak, dari
keempat bentuk komunikasi ini, mana yang paling sering diajarkan? Diantara kamu
ada yang menjawab menulis, ada yang menjawab membaca, ada diatara kamu yang
menjawab berbicara. Yes, semua itu memang benar adanya. Namun, apakah kamu
pernah mengetahui pelajaran yang secara khusus mengajarkan tentang
mendengarkan? Saya rasa tidak. Jika ada, mungkin tidak banyak yang
melakukannya.
Apakah kamu tahu
bahwa mendengarkan adalah skill yang sangat penting dalam hubungan antar
manusia?
Mendengarkan adalah
skill yang sangat penting agar kita bisa memahami orang lain. Mendengarkan
adalah skill yang sangat penting agar kita bisa memberikan nasihat yang tepat
bagi orang lain. Namun sayang kebanyakan dari kita mengabaikan skill yang satu
ini, sehinga kebanyakan dari kita adalah “Mendengarkan untuk Menjawab, bukan
untuk mengerti.” Inilah yang akan kita bahas.
Sekarang kembali ke
pembahasan.
Setiap orang akan
senang duduk bersama dengan orang yang memiliki kerelaan untuk duduk bersama
mereka dan memahami mereka. Memahami orang lain bisa dilakukan dengan istilah
yang dipopulerkan oleh Stephen Covey yaitu “Mendengarkan Secara Empatik.”
Apa itu Mendengarkan
Secara Empatik? Mendengarkan Secara Empatik adalah mendengarkan dengan maksud
untuk mengerti. Ini adalah apa yang saya sebut dengan “tangan diatas lebih baik
daripada tangan dibawah.” Untuk mendapatkan udara psikologis, untuk menerima
pengertian dari orang lain, terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah
mengerti terlebih dahulu.
Bagi sebagian orang,
hal ini terasa berat. Karena mereka sudah terbiasa dengan “berusaha untuk
membuat orang lain mengerti dirinya terlebih dahulu.” Ini membutuhkan
pergeseran sudut pandang pribadi yang mendalam, dan terkadang menyakitkan bagi
sebagian orang untuk mengubah sudut pandangnya.
Ketika mendengarkan,
orang-orang terbiasa menyaring segala sesuatu melalui sudut pandangnya sendiri,
mereka menjawab pernyataan (bukan pertanyaan) orang lain berdasarkan
autobiografi mereka kedalam kehidupan orang lain.
“oke, saya tahu
persis apa yang kamu rasakan.”
“Sebentar, saya juga
pernah berada di posisi kamu.”
Terlebih ada yang
lebih buruk lagi perkataannya.
“Apa yang kamu
rasakan itu tidak lebih buruk dari apa yang saya rasakan, coba bayangkan, saya
dulu......”
Mereka melakukan
sesuatu yang belakagan populer dengan istilah “adu nasib.” Sungguh buruk sekali
respon seperti itu.
Mendengarkan Secara
Empatik lebih dari sekedar mendengarkan kata-kata dan kalimat yang terlontar.
Mendengarkan secara empatik artinya memahami orang lain dari suaranya (tinggi
rendah nada suara dan penekanan) serta bahasa tubuh lawab bicara kita.
Hal ini juga
dikonfirmasi oleh para Ahli Komunikasi, mereka mengatakan bahwa hanya 10 persen
komunikasi yang diwakili oleh kata-kata. 30 persen lainnya diwakili oleh suara
dan selebihnya (60) persen komunikasi diwakili oleh bahasa tubuh.
Esensi dari
mendengarkan secara empatik adalah memahami. Memahami manusia sebagai keutuhan
dirinya sebagai mahluk yang memiliki perasaan. Dalam mendengarkan secara
empatik, Kamu mendengarkan dengan telinga tetapi yang terpenting dari semua itu
adalah mendengarkan dengan mata dan hati Kamu.
Mendengarkan Secara
Empatik sangat berguna karena memberi Kamu data yang sangat akurat yang
nantinya bisa Kamu tindaklanjuti. Bukannya memproyeksikan autobiografi Kamu
sendiri dan mengasumsikan pikiran, perasaan, motivasi serta interpretasi kamu
sendiri. Dengan Mendengarkan Secara Empatik, Kamu akan masuk ke dalam sudut
pandang lawan bicara kamu.
Kamu akan bisa
memberikan masukan yang akurat untuk mereka. Ingat, resep yang baik hanya akan
didapat dengan diagnosis yang tepat. Diagnosis yang tepat adalah dengan
melakukan yang namanya memahami penyakit tersebut. Begitu juga dengan
memberikan masukan yang baik, kamu harus memahami lawan bicara kamu. Dengan
begitu, kamu akan memberikan masukan yang tepat kepadanya. Juga, kamu akan
memberikan udara psikologis kepada mereka. Serta setelah memberi udara
psikologis, kamu akan mendapatkannya juga. Walau bukan melalui orang yang sama.
Saya ingin menutup
pembahasan ini dengan perkataan dari Stephen R. Covey yang sangat berharga.
“Kalau diminta
meringkas dalam satu kalimat untuk satu prinsip terpenting yang pernah saya
pelajari dalam bidang hubungan antarpribadi, itu adalah: Berusaha mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti. Ini adalah
prinsip kunci menuju hubungan antar pribadi yang sangat efektif.”
Berikutnya saya akan
membahas lebih jauh mengenai bagaimana cara melatih diri kita agar memiliki
kemampuan Mendengarkan Secara Empatik ini.
Sudah berapa banyak
wawasan yang kamu dapatkan setelah membaca artikel ini?
Share ke teman-teman kamu yaa jika apa yang telah kamu baca
ini memberikan manfaat untuk kamu. Kamu bisa klik “Share on Facebook” dan
“Share on Twitter” pada kolom dibawah. Saya akan sangat senang sekali jika kamu
mendapat manfaat dari apa yang saya sajikan ini.
Serta saya juga akan sangat senang jika
kamu mau berbagi pandangan kamu mengenai hal ini di kolom komentar.
Jika kamu suka dengan artikel seputar
pengembangan diri dari OrangorangProduktif.com , kamu juga bisa mendapatkannya
di platform lain seperti Facebook dan Instagram.
Kamu bisa klik link dibawah ini untuk
mendapatkan berbagai wawasan mengenai pengembangan diri dari
OrangorangProduktif.
Saya bersyukur karena telah
menyelesaikan artikel ini dan saya berterima kasih kepada kamu karena telah
membaca artikel ini sampai dengan selesai.
Saya Riqi dari OrangorangProduktif.com
Being Addicted To Self Growth.

0 Komentar