"80% Hasil yang Diperoleh Berasal Dari Hanya 20% Penyebab" Prinsip Pareto yang Penuh Daya

 




Haii, Riqi Disini.

"Usaha Cuma 20 Persen Tapi Dapat Hasil 80 Persen? Emang Bisa?" Bisa Banget, Saya Akan Ajak Kamu Bahas Bukunya Richard Koch yang Berjudul Living The 80/20 Way Agar Kamu Dapatkan Wawasannya.

Tidakkah  kamu ingin kerja dikit namun dengan hasil yang begitu besar?

Bisakah kamu bayangkan melakukan suatu pekerjaan yang hanya memerlukan effort 20% saja namun hasilnya 4x lebih banyak dari usaha yang kamu lakukan?

Apakah kamu tertarik dengan konsep bekerja seperti itu?

Kamu bisa baca artikel ini sampai selesai karena saya akan membahasnya lebih banyak lagi disini.

Ini adalah konsep yang saya dapatkan dari buku yang berjudul Living The 80/20 Way yang ditulis oleh Richard Koch. Ia adalah seorang penulis buku yang sangat terkenal yang mana gagasannya ini telah diterima oleh banyak kalangan. Ia mengatakan bahwa “80% hasil yang diperoleh berasal dari hanya 20% penyebab atau upaya.”

Sebetulnya ini adalah prinsip yang penulis bawakan dalam konteks ekonomi dan bisnis. Melalui bukunya yang berjudul The 80/20 Priciple yang telah diterjemahkan ke dlaam 22 bahasa dan terah terjual lebih dari 500.000 eksemplar. Wajar saja jika saya mengatakan bahwa gagasannya ini diterima. Para pembaca buku ini merasa bahwa gagasan yang ia tulis untuk konteks ekonomi dan bisnis ini juga berlaku untuk kehidupan personal. Hal inilah yang mendorong Koch untuk menuliskan prinsip 80/20 ini dalam konteks kehidupan pribadi hingga jadilah buku ini sebagai salah satu buku pengembangan diri.

Saya pribadi sangat tertarik dengan gagasan yang dibawakan oleh Koch ini. Bagaimana tidak, siapa juga yang ngga mau melakukan effort sebesar 20 persen kemudian mendapatkan hasil sebesar 80 persen. Tentu saja hal ini sangat menggiurkan. Walau saya belum baca buku The 80/20 Principle (yang mana buku tersebut sudah masuk wish list saya di tahun ini) namun, saya sudah mendapatkan insight yang sangat mencerahkan dari buku Living The 80/20 Way.

Ada dua hal yang disebutkan penulis agar prinsip 80/20 ini bekerja untuk kehidupan pribadi. Yang pertama adalah Aturan tentang Fokus (saya telah menemukan bahwa fokus begitu sering disebut-sebut oleh para penulis dan penggagas ide besar didalam berbagai buku pengembangan diri yang saya baca). Pada dasarnya aturan ini berbicara tentang “Less is More” sejenis apa yang sering kita sebut dengan minimalisme.

Penulis mengatakan “Cukup mudah memahami gagasan tentang fokus. Konsep 80% dari apa yang kita inginkan dihasilkan dari 20% dari apa yang lakukan. Oleh karena itu, dalam mendapatkan hasil yang kita inginkan, membantu orang lain ataupun tujuan yang sangat penting bagi kita, hanya sebagian kecil dari tindakan yang benar-benar diperlukan.” Lebih ekstrim lagi, penulis mengatakan “sisanya sia-sia belaka.

Jadi, kita kita belajar mengidentifikasi hal-hal yang paling berarti dan yang menambah kita untuk belajar untuk berfokus pada hal-hal yang kita yakini paling penting. Maka kita akan mendapati Less is More.

Tugas kita disini adalah menemunkan 20% dari tindakan kita yang benar-benar menghasikan itu. Dalam buku Living The 80/20 Way kita akan diarahkan oleh penulis bagaimana menemukan 20% tindakan yang akan menghasilkan 80% tersebut.

Penulis mengatakan bahwa dengan berkonsentrasi hanya pada hal-hal tertentu yaitu dari beberapa aspek paling penting dalam kehidupan kita dan yang sesuai dengan keinginan kita, kehidupan tiba-tiba menjadi lebih dalam dan lebih memuaskan.

Penulis disini mengarahkan kita pada kedalaman makna dari sebuah tindakan. Bukan memperluasnya. Saya fikir ada benarnya, sebab hal ini juga sejalan dengan apa yang disebutkan oleh Filsuf Tiongkok  Sun Tzu:

 

“Jika Anda perkuat semua di bagian, maka Anda akan lemah di semuanya”

 

Fokus yang ingin disampaikan oleh penulis disini adalah bagaimana kita hanya memberikan perhatian pada sesuatu yang paling bernilai pada diri kita pribadi. Ini bersifat unik, karena setiap orang tentu memiliki nilai yang dijunjung tinggi pada tingkat individu.

Pertanyaannya adalah apakah kamu telah mengetahui apa hal yang paling bernilai dalam dirimu? Silahkan kamu renungi pertanyaan ini.

Dalam tulisan saya di @orangorangproduktif (Facebook Page dan Instagram) saya telah banyak membahas pentingnya Value untuk setiap pribadi. Sebab hal tersebut sangatlah krusial juga penerapan dari “Finding your own Value” juga bisa digunakan dalam berbagai kebutuhan. Salah satunya adalah dari topik yang sedang kita bahas saat ini.

Dengan kata lain, dengan gagasan 80/20-nya ini menginginkan agar kita memfokuskan 20% dari tindakan kita tersebut hanya pada sesuatu yang paling bernilai dalam hidup kita.

Sekali lagi, apa value kamu? Apa nilai yang paling kamu junjung tinggi dalam hidupmu?

Itulah tahapan pertama yang disampaikan penulis.

Setelah kita mengetahui value yang kita junjung tinggi dan kita memfokuskan diri pada tindakan dari sesuatu yang kita junjung tinggi tersebut. Penulis mengarahkan kita agar meningkatkan dari apa yang telah kita fokuskan tersebut. Inilah yang penulis sebutkan pada bagian kedua.

Bagian kedua adalah Aturan tentang Kemajuan. Idenya adalah dengan menciptakan lebih banyak dengan lebih sedikit. Apakah kamu dapat memahami kalimat tersebut? Sebetulnya saya juga memerlukan waktu untuk menangkap apa yang dimaksud oleh penulis. Terkesan paradoks memang, namun itulah yang disampaikan oleh penulis. ^_^

Untuk gagasan kedua, penulis mengatakan bahwa kita dapat menciptakan lebih banyak dengan lebih sedikit. Penulis mengatakan jika tidak dijelaskan lebih mendalam akan ada keambiguan didalam kalimat tersebut.

Aturan tentang kemajuan mengatakan bahwa kita selalu dapat memperoleh atau meraih lebih banyak dari apa yang kita inginkan dengan menggunakan lebih sedikit energi, keringat dan kekhawatiran. Saya memahami kalimat ini dengan menghubungkannya dengan Compounding Effect.

Pada gagasan ini disebutkan bahwa kita tidak hanya bisa memperbaiki keadaan secara dramatis tapi juga melakukannya dengan lebih sedikit usaha. Saya fikir gagasan ini cukup revolusioner, sebab hal ini bertentangan dengan pandangan yang berlaku secara umum yang mengatakan bahwa tindakan lebih banyak akan memberikan hasil yang lebih banyak pula.

Sebab gagasan ini bertentangan dengan pandangan kebanyakan, maka saya begitu tertarik untuk menyelesaikan buku ini.

Pada intinya, buku Living The 80/20 Way akan menunjukkan kepada kita bagaimana menerapkan kedua hal tersebut. Penerapan dari prinsip ini mencangkup berbagai aspek dalam kehidupan (Setidaknya itulah yang di klaim oleh penulis).

Disebutkan bahwa prinsip 80/20 yang terdiri dari kurang adalah lebih dan mencapai lebih banyak dengan lebih sedikit dapat diterapkan untuk kehidupan pribadi, pekerjaan dan kesuksesan profesional, hubungan, dan yang pastinya adalah penerapan ini berlaku dalam ekonomi dan bisnis sebab gagasan ini bermula dari sana.

Yap, itulah pembahasan singkat mengenai prinsip 80/20 yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan insight dari tulisan ini?

Saya berterima kasih kepada kamu yang telah membaca tulisan saya di orangorangproduktif.com

Saya juga bersykur karena dapat menyelesaikan tulisan ini.

Adalah sebuah kehormatan bagi saya jika kamu bersedia membagikan tulisan ini ke teman-teman kamu di platform sosial media manapun.

Jika ada hal yang ingin kamu diskusikan, jangan sungkan untuk menuliskannya di kolom komentar ^_^

Nantikan tulisan saya di orangorangproduktif.com selanjutnya.

Orangorangproduktif.com juga hadir di Platfrom Facebook dan Instagram.

Kamu bisa klik link dibawah ini untuk Follow dan like Page Facebooknya. Sebab kamu akan dapatkan informasi seputar pengembangan diri lebih banyak yang saya post setiap harinya.

Klik Disini

Klik Disini

Klik Disini


Perbedaan Kepemimpinan dan Manajemen

 


Haii, Riqi Disini.

Apakah kamu pernah memikirkan:

  1. Apa sih perbedaan antara Kepemimpinan dan Manajemen?
  2. Bagaimana sih hubungan diantara keduanya?
  3. Apakah Seorang pemimpin secara otomatis bisa me-manage? Dan sebaliknya apakah seorang manajer otomatis bisa mejadi seorang pemimpin?

Saya yakin, beberapa diantara kamu sudah pernah kefikiran hal seperti ini didalam benak kamu. Betul?

Atau jika kamu memang baru kefikiran pertanyaan seperti ini, dalam tulisan ini saya ingin mengajak kamu membahas satu topik yang sangat menarik perhatian saya belakangan ini.

Yaitu saya ingin mengajak kamu menyelami lebih dalam lagi perbedaan antara keduanya.

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit bagaimana saya bisa sampai pada pertanyaan perbedaan antara Kepemimpinan dan Manajemen ini. Boleh? ^_^

Pertanyaan ini muncul ketika saya membaca buku Stehpen R. Covey yang saya rasa kita semua sudah familiar dengan buku tersebut yang berjudul Seven Habits of Highly Effective People atau kedepan akan saya sebut hanya dengan Seven Habits saja.

Dalam salah satu bab di buku tersebut yang membahas mengenai pernyataan misi pribadi seseorang, disebutkan bahwa seorang pribadi yang memiliki misi pribadi dapat membayangkan dan memvisualisasikan apa yang mereka inginkan dimasa mendatang. Untuk mencapai tahap tersebut, dibutuhkan kepemimpinan pribadi. Dalam sub pembahasan kepemimpinan pribadi inilah di sebutkan bahwa kepemimpinan berbeda dengan manajemen. Sudah mulai penasaran? Tenang, semua akan saya bahas disini.

Selain itu, saya juga mendapati perbedaan antara Kepemimpinan dan Manajemen ini dibuku lainnya yang berjudul Ready To Lead? Yang ditulis oleh  Alan Price.

Juga saya mendapati kutipan yang secara khusus menyebutkan perbedaan antara keduanya.

Nah, dari ketiganya itulah saya berusaha mencari benang merah diantara ketiga pernyataan yang menyebutkan perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen tersebut.

Setelah merangkum dan mencari benang merah dari tiga kutipan yang saya baca tentang perbedaan antara keduanya, saya menyimpulkan sesuatu. Kesimpulan tersebut akan saya sebutkan di akhir pembahasan tulisan ini. Namun, saya akan menyebutkan ketiga kutipan berbedaan antara Kepemimpinan dan Manajemen terlebih dahulu untuk kamu agar kita sama-sama mengetahui perbedaan diantara keduanya. Oke. ^_^

Kutipan pertama saya dapatkan dari Peter Drucker dan Warren Bennis, keduanya menyebutkan bahwa “Manajemen adalah melakukan sesuatu dengan benar; kepemimpinan melakukan hal yang benar.”

Dari kutipan diatas, apakah kamu sudah merasakan perbedaan dan dapat menguraikan perbedaan antara keduanya?

Kutipan kedua saya dapatkan dari Stephen R. Covey. Beliau membedakan keduanya dengan menghubungkan keduanya dengan teori otak kanan dan otak kiri (belakangan teori otak kanan-kiri ini dikatakan masih diperdebatkan, namun saya tidak akan membahas hal ini); ia mengatakan:

“Manajemen letaknya di otak kiri, dimana disana terkumpul analisis, perhitungan, perbandingan historis, standar dan aturan secara runut berada.”

“Sedangkan Kepemimpinan letaknya di otak kanan dimana imajinasi, mimpi, visualisasi dan pemikiran berdasarkan intuisi berada.”

Apakah kamu sudah menemukan benang merah antara kutipan pertama dan kutipan kedua?

Kutipan ketiga saya dapatkan dari tulisan dalam buku yang berjudul Ready To Lead? Karya Alan Price. “Manajemen adalah ilusi, sehingga kita dapat mengubah dunia irasional menjadi rasional. Manajemen menciptakan cerita masa lalu yang masuk akal dan memberi petunjuk bagi tindakan kita dimasa sekarang.”

“Sedangkan kepemimpinan adalah imajinasi yang membuat dunia rasional menjadi inspirasional. Kepemimpinan menciptakan kisah masa depan sehingga tindakan kita saat ini ada artinya.”

Sekali lagi, apakah kamu sudah menemukan benang merah antara ketiga kutipan yang telah disebutkan sebelumnya?

Kali ini saya akan mencoba menarik benang merah antara ketiga pernyataan yang menyebutkan perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen tersebut. Siap? Yuk kita lanjut lagi.

Pertama yang menyebutkan bahwa manajemen melakukan sesuatu dengan benar sedangkan kepemimpinan adalah melakukan sesuatu yang benar. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa manajemen dalam konteks pengertian diatas merupakan sebuah guide dan perilaku serta pekerjaan kita diarahkan dengan aturan-aturan yang telah disetujui oleh sekelompok orang yang bisa kita sebut dengan “pihak manajemen” dalam sebuah perusahaan atau organisasi secara umum.

Kesepakatan ini bisa dalam bentuk aturan perusahaan, KPI, Standar Operasional Prosedur atau yang lebih luas lagi ISO yang disepakati secara internasional. Bisa juga dalam bentuk target pendapatan. Dimana target ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pencapaian departemen tertentu, target sales contohnya. Itulah manajemen, melakukan sesuatu yang benar. Dikatakan benar karena dapat dibandingkan dengan standar.

Sedangkan Kepemimpinan berdasarkan konteks diatas yang menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah melakukan sesuatu yang benar, yang dimaksud adalah sebuah kepercayaan atau value, bisa juga disebutkan dengan istilah yang digunakan oleh Simon Sinek yaitu “Why”. Kepercayaan yang datangnya dari nurani seseorang, sebuah nilai yang dibakukan dalam sebuah visi dan misi perusahaan yang kemudian melalui keduanya dirumuskanlah kebijakan dan strategi. Dimana kebijakan dan strategi ini adalah guidance bagi “manajemen.”

Pernyataan kedua yang saya ambil dari Stephen Covey yang mengatakan bahwa Manajemen datang dari otak kiri yang dimana otak kiri adalah tempatnya analisis, perhitungan, dan perbadingan historis, serta standar dan aturan. Hal ini selasar dengan pernyataan yang pertama yang menyebutkan tentang manajemen merupakan melakukan sesuatu dengan benar. Melakukan sesuatu dengan benar artinya melakukan sesuatu yang sesuai dengan standar dan aturan serta perilaku atau pencapaian dapat diukur dan dibandingkan dengan data historis.

Kepemimpinan berada di otak kanan dimana disana tempat imajinasi, visualisasi, mimpi dan intuisi yang bersifat abstrak berada. Jika seorang pemimpin adalah mereka yang memiliki cita-cita dan memegang teguh nilai yang ingin mereka capai. Maka hal ini selaras dengan yang dimaksud oleh Stepen Covey. Para pemimpin adalah mereka yang bisa memvisualisasikan cita-cita mereka serta mereka dapat membuat orang lain membayangkan apa yang dirinya cita-citakan. Hal tersebut bisa dalam bentuk visi dan misi. Setuju? ^_^

Kemudian kutipan ketiga yang mengatakan bahwa manajemen menciptakan cerita masa lalu dan memberi petunjuk bagi tindakan kita dimasa sekarang. Cerita masa lalu ini sebagai dasar analisis, perbandingan data historis serta perhitungan kenaikan dan penurunan sebuah kinerja. Tempatnya di otak kiri.

Serta kutipan ketiga mengatakan bahwa kepemimpinan adalah imajinasi yang membuat dunia rasional menjadi inspirasional. Kepemimpinan adalah menciptakan kisah masa depan sehingga tindakan kita saat ini ada artinya. Kutipan ketiga ini memiliki keselarasan dengan pernyataan Stehpen Covey yang mengatakan bahwa kepemimpinan berada di otak kanan serta mereka adalah pihak yang menciptakan nilai serta nilai tersebut yang menjadi pondasi dari visi dan misi.

Saya ingin memberikan contoh kepada kamu terkait dengan pengertian Kepemimpinan diatas yang menyebutkan “Kepemimpinan adalah imajinasi yang membuat dunia rasional menjadi inspirasional.” Kamu masih bingung dengan pernyataan ini? Saya akan memberikan contoh nyata orang yang melakukan hal ini.

Dialah Steve Jobs, dalam buku yang ditulis oleh Simon Sinek yang berjudul “Start With Why” disebutkan bahwa, Jobs memiliki Nilai yang ingin ia sebarkan melalui produknya. ‘i’ yang menempel disetiap produknya – iPhone, iPad, iWatch, you name it – adalah manifestasi bahwa teknologi seharusnya bisa digunakan untuk pribadi. Pada saat itu, industri teknologi hardware sedang dipegang oleh IBM, dimana pada saat itu, komputer hanya bisa ditemukan di kantor-kantor.

Steve Jobs, adalah pemimpin. Dia mengimajinasikan sesuatu yang inspirasional sehingga membuat mereka yang tergabung dengan Jobs terinspirasi karena idenya.

Kembali lagi pada topik pembahasan. Dari semua kutipa yang saya baca mengenai perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan, baik kutipan itu dari Peter Drucker dan Warren Bennis, Stephen Covey serta Alan Price Kegitanya memiliki keselarasan dan tidak memiliki pertentangan didalamnya. Keduanya berbeda (Kepemimpinan dan Manajemen), namun keduanya saling membutuhkan dalam suatu organisasi. Karena perbedaan ini, terkadang ada “shock” tertentu ketika seorang manajer berpindah menjadi pemimpin. Hal ini akan saya bahas dilain waktu.

Terima kasih sudah mampir di orangorangproduktif.com

Semoga kamu mendapatkan insight dari apa yang saya tulis.

Jika ada hal yang ingin kamu diskusikan, silahkan drop di kolom komentar ya.

Serta jika tulisan ini bermanfaat, kamu bisa bagikan ke teman-teman kamu di sosial media melalui tombol share yang sudah ada.

Oh iya, orangorangproduktif juga ada di platform Facebook dan Instagram juga. Kamu bisa klik link dibawah ini untuk follow dan like page orangorangproduktif.

Klik disini

Klik disini

Klik disini

Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih telah mampir di orangorangproduktif.com

Saya Riqi, sampai jumpa dalam artikel pengembangan diri lainnya. ^_^


Stop !!! Tulisan Ini untuk Kamu yang Sering Dirundung Insecurity

Kita adalah apa yang kita konsumsi, Setuju?

Haii, Riqi Disini.

Tentu kita sudah familiar dengan istlah Insecurity, bukan?

Ketika yang lain sudah menikah dan mempunyai anak di umur yang setara dengan kita, kita kadang merasa kecil dengannya.

Ketika orang lain pergi jalan-jalan ke Luar Negeri dengan pasangan mereka atau dengan keluarga mereka, kita kadang merasa kecil melihat kebahagiaan mereka.

Ketika yang lain sudah bekerja di perusahaan yang mereka idam-idamkan dan menikmati pekerjaan mereka disana, kita merasa rendah diri karenanya.

Ketika sebagian pemuda telah berhasil mengembangkan dan membangun bisnis mereka, kita merasa malu pada diri sendiri.

Bukankah perasaan tersebut familiar dengan kita? Yaa.. tentu saja... saya dan kamu pasti pernah dalam perasaan seperti itu.

Kira-kira, kenapa dengan melihat pencapaian orang lain kita merasa kecil, merasa rendah, malu pada diri sendiri dan yang lebih parah, merasa terintimidasi oleh pencapaian orang lain? Yaa.. tentu saja karena secara sadar atau tidak sadar kita telah membandingkan diri kita dengan mereka yang “sudah” atau yang kita asumsikan dalam fikiran kita sendiri telah “sukses.”

Pernahkah kita bertanya-tanya, kira-kira apa penyebab sehingga kita membandingkan diri kita dengan pencapaian orang lain diluar sana? Banyak yang mengatakan bahwa semua itu karena apa yang kita konsumsi di media sosial dimana orang-orang secara sadar atau  tidak sadar berlomba-lomba mempertontonkan pencapaian mereka-lah. Efek yang ditimbulkan dari mengkonsumsi hal tersebut adalah turunnya rasa percaya diri seseorang sehigga memunculkan perasaan tidak enak dan berakhir pada insecure.

Dilema yang kita hadapi dari permasalahan insecure ini adalah bahwa kita ingin meninggalkan media sosial namun, kita juga masih memiliki keinginan untuk tetap terhubung dengan orang lain. Iya kan?

Lantas apa solusinya?

Saya telah melakukan tiga hal ini dan saya pribadi telah merasakan manfaatnya. Mau saya bagikan tipsnya? Silahkan lanjutkan membaca artikel ini jika kamu mau tau tipsnya.

Tips sederhana ini telah saya lakukan dan saya bersyukur sebab dengannya saya merasa lebih baik dan perasaan “merasa kecil” saya perlahan berkurang seiring hari-hari yang saya lalui.

Tips pertama adalah saya unfollow akun-akun yang menyebabkan rasa insecurity saya muncul, hayoo coba fikirkan dan ingat-ingat lagi, kira-kira siapa yang kita lihat sosial medianya yang kira-kira kamu merasa “kecil” setelah melihat postingan orang tersebut? Memang cara ini sedikit ekstrim bagi sebagian orang, namun saya lebih memilih kesehatan mental saya diatas pertimbangan lainnya. Sekarang bagaimana dengan kamu?

Tips kedua yang saya lakukan adalah dengan membatasi/sembunyikan/hide postingan feed dan story instagram beberapa orang yang berada didalam lingkungan “circle” saya. Alasannya sama, membuat perasaan saya “kecil” dan saya mulai membandingkan diri dengan mereka. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan orang-orang yang kita batasi hubungannya di sosial media, sungguh. Memang perasaan yang tidak masuk akal ini (insecure yang saya maksud) muncul melalui orang-orang yang kadang tidak bisa kita tebak. Pertanyaannya sama dengan tips pertama, saya sudah melakukannya dan saya merasa lebih baik, bagaimana dengan kamu?

Ketiga, perbanyak follow akun-akun di media sosial yang bisa memberikan gelombang energi positif untuk diri sendiri. Mengkonsumsi konten positif akan memberikan semacam nutrisi bagi otak dan fikiran kita. Pernah dengar quote ini..

“Kita adalah apa yang kita konsumsi.”

Jika kamu ingat dari siapa quote tersebut, silahkan tulis di kolom komentar ya, karena jujur saya lupa kalimat pastinya dan siapa yang menyebutkan/menulis quote tersebut. Hehe.

Lantas, apa hasil yang saya rasakan setelah melakukan ketiga hal tersebut diatas? “BOOM” saya merasakan perasaan yang rasa-rasanya terakhir kali saya rasakan sebelum mengenal media sosial (agak hiperbola sih yaa). Tapi, ini benar, saya merasakan sesuatu yang berbeda setelah mengurangi mengkonsumsi konten-konten yang mengurangi rasa percaya diri saya dan menggantinya dengan konten-konten positif yang memberikan energi positif dan getaran positif bagi otak dan fikiran saya. Inilah perasaan yang bisa saya gambarkan kepada kamu. Tidak ada kalimat yang lebih baik lagi yang bisa saya sampaikan terkait dengan penggambaran perasaan yang saya rasakan tersebut, kamu ingin merasakannya? Silahkan ikuti tips diatas ya.

Sekarang, saya ingin turut andil dan memberikan kontribusi untuk kamu yang memiliki permasalahan yang serupa dengan yang saya alami. Saya berniat dan berkeinginan memberikan kontribusi berupa menyebarkan tulisan dan memberikan informasi berupa konten-konten positif sebagai pengganti konten-konten negatif yang secara tidak langsung merasuki alam bawah sadar kita.

Melalui grup facebook Bacaan Bermanfaat dan Page facebook OrangorangProduktif yang telah memuat sebanyak lebih dari seratus artikel pendek seputar pengembangan diri dan self help (dan akan terus bertambah karena setiap harinya saya ber-azam pada diri saya sendiri untuk membagikan satu artikel pendek pengembangan diri di @orangorangproduktif), saya berharap kita semua bisa memberikan kontribusi berupa bacaan positif yang mudah diakses dan dibagikan di platform facebook ini.

Selain itu juga saya juga aktif membagikan postingan dalam bentuk Carousel dengan tema Self-Improvement pula. Link unutk menuju Grup, Page dan Instagram akan ada dibagian akhir tulisan ini ya. ^_^

Untuk itu, saya mengajak kamu untuk bergabung di grup facebook @bacaan bermanfaat dan juga like dan follow halaman @orangorangproduktif serta Instagram @orangorangproduktif sehingga setiap harinya, setidaknya kamu membaca satu artikel pendek pengembangan diri dan self help. Mulai dari langkah kecil ini, saya harapkan kamu juga memiliki hasrat yang lebih besar lagi untuk membaca dan mengkonsumsi konten-konten positif.

Itu saya yang ingin saya bagikan kepada kamu. Semoga dengan membaca artikel pendek ini saya dan kamu bisa menjadi lebih peduli dengan kesehatan mental kita masing-masing dan juga orang-orang sekitar kita.

Jika ada yang ingin di diskusikan silahkan meluncur ke kolom komentar.

Serta jika informasi dari artikel ini memberikan manfaat untuk kamu, silahkan di share ke teman-teman kamu juga yaa.

Saya tunggu kehadiran kamu di grup @bacaan bermanfaat dan halaman @orangorangproduktif juga di Instagram @orangorangproduktif. Linknya saya ada dibawah ini ya.

Klik disini ya

Klik disini ya

Klik disini ya

Saya Riqi, Salam produktif. ^_^

Perkenalan OrangorangProduktif

Being Addicted To Self Growth


Hai, perkenalkan saya Riqi Aspika.

Saya adalah pengelola blog orangorangproduktif ini.

Beberapa bulan terakhir saya senang menulis dengan tema Self-Improvement, Self Help, Review buku-buku pengembangan diri yang saya baca seputar Self-Imporvement pula. Juga, saya juga senang membagikan pengalaman pribadi saya tentang perjalanan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Khususnya mempraktikkan berbagai jenis aspek dari pengembangan diri yang tentunya semua itu saya dapatkan dari buku yang saya baca.

Setelah aktif dalam mini blog di Instagram dengan user name akun di @orangorangproduktif, saya jadi ingin berbagi lebih banyak lagi seputar pengembangan diri dan perjalanan pribadi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Juga saya juga aktif di Facebook dengan Page yang saya kelola dengan nama orangorangproduktif dan grup Facebook tempat saya dan teman-teman yang memiliki minat yang sama dengan saya berbagi yaitu Self-Improvement dan Self Help dengan grup Bacaan Bermanfaat. Kamu bisa bergabung dengan saya di grup tersebut

Untuk itu, saya memutuskan untuk membagikannya di blog seperti yang sedang kamu baca saat ini.

Harapan saya adalah bahwa saya dan kamu mendapatkan manfaat dari semua yang saya bagikan di blog OrangorangProduktif ini.

Salam Produktif ^_^


Kamu bisa klik link dibawah ini untuk dapatkan artikel dan konten seputar pengembangan diri di Facebook dan Instagram OrangorangProduktif.

@OrangorangProduktif di Facebook dan Instagram